Sunday, September 21, 2014

Cinta Jadi Sahabat

| 1:04 AM |
Entah apa yang aku rasa saat ini. Perasaan yang begitu tidak menentu. “Suka” mungkin satu kata itu yang dapat menggambarkan perasaanku terhadap laki-laki itu. Sejak awal bertemu dengannya aku merasakan perasaan yang berbeda dari yang lainnya. Aku mencari tahu tentang dirinya, laki-laki itu bernama Putra. Ternyata dia sekelas denganku. Aku sangat senang mengetahui hal itu. Aku bisa mengenalnya lebih dekat lagi.

Saat di kelas aku mencoba mencuri pandangan melirik kearahnya, secara tidak sengaja mataku dan matanya saling bertatapan. Jantungku berdebar kencang sekali “Jangan-jangan dia juga suka denganku”, ucapku dalam hati. Semakin hari aku dan Putra semakin dekat, setiap malam aku smsan dengannya membiarkan hal yang tidak penting.

Hari Minggu Jani mengajakku pergi nonton

“Hari Minggi nonton yuk!”, ucap Jani mengajakku.
“Nonton dimana?”, tanyaku.
“Di Atrium ajalah sekalian ajak Putra kali aja dia nyatain cinta ke kamu”, ucap Jani meledekku.
“Haha... ada-ada aja kamu, tidak mungkinlah”, aku tersenyum malu.
“Yaudah pokoknya kamu harus ikut, nanti aku yang ngajak Putra sama yang lainnya deh.” Jani memaksaku.
“Iya, liat nanti aja ya”, jawabku.
“Oke deh, aku pulang duluan ya... dah...”, Jani pergi meninggalkanku karena sudah di jemput ayahnya.
Hari Minggu pun tiba, aku siap-siap menuju ke sekolah karena sudah janji dengan Jani dan lainnya. Sampai di depan sekolah aku melihat sudah banyak yang berkumpul.
“Ini dia yang ditunggu”, ucap Ari.
“Kebiasaan nih anak suka terlambat”, sambar Yola.
“Iya maaf tadi nunggu abang aku lama”, jawabku tidak enak.
Aku sekilas melihat Putra, dia hanya terdiam tersenyum melihatku.
“Yaudah jalan yuk takut nanti fimnya dah main”, ucap Jani tidak sabaran.
“Ayuk... Yuk...”, sambar Ari dan Yola.
Sepanjang jalan Ari, Yola dan Jani bercanda membuat suasana menjadi berisik, sedangkan aku dan Putra hanya diam saja, sambil sesekali mencuri pandangan. Sampai di Atrium kami segera menuju bioskop. Setelah selesai menonton kami pergi lagi menuju Timezone memainkan beberapa permainan.

Putra sangat ahli bermain mengambil boneka dan basket, ia setiap bermain mengambil boneka selalu mendapatkan boneka. Aku dan Jani hanya duduk melihat Putra, Yola dan Ari yang sibuk bermain.

“Shela kamu gak mau main?” tanya Jani.
“Nanti aja, aku mau liat mereka bermain dulu”, jawabku tak bersemangat.
“Lemes banget sih kamu, yaudah aku kesana ya...”, ucap Jani yang tidak sabar ingin bermain.

Jani menghampiri Putra seperti memberi kode agar dia mendekatiku. Kemudian Putra mengambil boneka yang ia dapat saat bermain dan menghampiriku.
“Ngapain disini? Gak ikutan main?” ucap Putra.
“Lagi gak mau main”, jawabku.
“Ohh... ehh aku mau ngomong nih boleh gak?”, dengan nada serius.
“Ngomong aja sih”, jantungku mulai bergetar cepat.
“Kamu mau gak jadi pacar aku?”, ucap Putra sambil memberikan boneka yang tadi ia dapat waktu bermain. Aku hanya terdiam dan hanya biang merbicara apapun seperti patung. Aku tidak menyangka bahwa Putra akan menyatakan cintanya pada saat ini juga.
“Udah terima aja”, suara Yola, Ari dan Jani terdengar. Aku kaget mendengar suara mereka, aku hanya menganggukan kepala kepada Putra yang menandakan bahwa aku menerimanya.
Delapan bulan berlalu aku dan Putra pacaran semua terasa sangat indah. Aku selalu menemaninya saat ada pertandingan basket. Putra yang sangat romantis dan humoris membuatku semakin nyaman dengannya. Semakin hari aku semakin mencintainya begitupun sebaliknya.

Namum memasukin sepuluh bulan aku merasa hubungan kami menjadi semakin renggang. Entah mengapa? Aku merasa perubahan sikap dia yang sangat drastis. Yang biasa menelponku kini tidak lagi, bahkan mengirim pesan untukku saja tidak. Dia beralasan bahwa hp dia rusak. Aku mempercayainya begitu aja, tetapi saat aku meminjam hp Ari untuk mengirim pesan kepada kakakku, tiba-tiba ada pesan masuk dari Putra. Aku penasaran akhirnya aku buka.
“Kamu dimana? Jadi ikut basket gak?”, si pesan dari Putra.
“katanya hp dia rusak?”, tanyaku pada Ari.
Ari hanya terdiam.
“Udah sih aja”, ucapku memaksa.
“Aku mau cerita tapi gak enak sama Putra sama kamu juga”, jawab Ari.
“Yaudah cerita aja gak apa-apa”, aku semakin memaksa.
“Sebenarnya hp dia gak rusak dan dia sekarang lagi dekat sama adik kelas”, Ari menceritakan semuanya.
Aku sangat sedih mendengar cerita dari Ari. Aku mencoba menelpon Putra tetapi tidak di angkat, aku coba sms juga tidak dibalas. Saat di sekolah aku dan Putra hanya diam dan saling cuek daja. Ak mencoba mencari kejelasan dari Putra tetapi dia terus menghindariku.

Sudah satu bulan hubunganku dan Putra tidak jelas. Dia yang selalu menghindariku ketika bertemu denganku. Aku mencoba meminta bantuan kepada Ari agar Putra menemuiku di lapangan tempat dulu aku dan Putra bermain bersama.

Akhirnya Putra menemuiku di lapangan setelah pulang sekolah

“Mau ngapain lagi sih?”, tanya Putra ketus.
“Aku butuh kejelasan dari kamu. Aku gak bisa kayak gini terus, yang kayak baju dijemur udah kering tapi gak pernah diangkat.”, ucapku lirih.
“Terus mau kamu apa?”, tanya putra seperti tak bersalah.
“Harusnya aku yang nanya begitu. Kamu mau apa? Mau putus?” tanyaku serius.
“Gak tau.”, jawab Putra tanpa berpikir.
“Aku butuh kejelasan kali, gak bisa digantungin terus kayak gini. Kamu mau putus?”, mulai emosi.
“Iya kita udahan sampai sini saja, kita temanan aja”, Putra menjawab tanpa merasa bersalah.
“Yaudah, aku mau pulang. Makasih buat semuanya.”. Aku pulang dengan rasa yang sangat kecewa.

Dengan perasaanku yang sangat hancur aku berjalan meninggalkan lapangan. Aku sangat sedih dengan keputusan dia yang meninggalkanku demi wanita lain.

Setelah putus seminggu aku masih belum bisa melupakan semua kenanganku bersamanya. Saat bertemu di kantin aku dan Putra hanya diam seperti orang yang tidak kenal. Namun seiring berjalannya waktu hubunganku dan Putra semakin membaik.

Aku dan dia seperti biasa lagi mengobrol dan bercanda layaknya seorang teman. Aku berpikir lebih baik menjadi teman dari pada menjadi pacar tetapi sepeti orang yang tidak kenal. Aku sudah tidak berpikiran untuk kembalimenjadi kekasihnya lagi. Kini aku, Putra, Jani, Ari dan Yola menjadi sahabat yang sangat dekat.

Aku mengingat dari kejadian yang lalu dan belajar merelakan suatu hal yang aku sayangi demi kebahagian orang lain jauh lebih baik dari pada mempertahankan tetapi membuat orang lain menderita.

Karya : Cecilia Clianto

No comments:

Post a Comment

Back to Top